Program kerja “Andai Menjadi Ketua KPK”

17 Nov 2012

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) adalah sebuah lembaga penegak hukum yang membidani kasus korupsi, sesuai dengan singkatan KPK itu sendiri. Ya, tanpa kita harus menyelami lembaga KPK itu seperti apa. Sebuah nama sudah bisa ditarik kesimpulannya. Terlebih lagi, peran media juga turut mengenalkan KPK secara massive.  Baik itu lewat layar televisi, radio, atau media cetak dan online-yang memberitakan penyelidikan dengan berbagai macam kasus korupsi, dan juga melakukan interogasi atau penangkapan oknum-oknum terkait yang terlibat di dalam kasus korupsi tersebut. Jadi, hampir sebagian besar orang sudah paham dengan baik mengenai KPK secara garis besarnya itu seperti apa. Yaitu melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi melalui penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan oknum terkait korupsi ke sel (tahanan penjara). Dimana kesemua itu masuk ke dalam ruang lingkup tugas dan fungsi KPK itu sendiri. Dan lewat pemberitaan yang secara massive tersebut, saya rasa KPK sudah menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sejak dari awalnya.

Di suatu waktu, saya berdialog dengan Tuhan. Dan kemudian, selang beberapa waktu, atas takdir-Nya, saya ditetapkan untuk menjadi ketua KPK. Singkat cerita, saya menjadi ketua KPK untuk masa jabatan 20** - 20**. Sudah tentu setelah melewati rangkaian pengangkatan, termasuk janji dan sumpah untuk menjadi ketua KPK yang bisa sejalan dengan ekspetasi rakyat, aturan, tugas, dan fungsi KPK itu sendiri, dan juga berikrar untuk memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya. Maka setelah melewati rangkaian itu, saya akan mengaplikasikan program kerja saya yang sebelumnya sudah saya uji melalui sidang presentasi di hadapan majelis pemerintah yang mengangkat saya sebagai ketua KPK.

Program kerja saya meliputi antara lain :

1. Berjalan sesuai dengan koridor. Dalam artian, mengaplikasikan tugas dan fungsi dari KPK secara maksimal, dan berpegang teguh sesuai UUD yang ada. Demi misi melakukan pemberantasan kasus korupsi tanpa pandang bulu. Untuk visi Indonesia yang seminimal mungkin jauh dari KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme).

2. Menyentuh pendidikan. Dalam artian, memberi edukasi kepada generasi penerus bangsa (pelajar), lewat pemahaman yang terselip pada sebuah mata pelajaran mengenai efek buruk dari melakukan tindak korupsi. Tentunya, hal ini perlu kerjasama dengan pihak yang terkait. Sebut saja Kemendiknas (Kementerian Pendidikan Nasional). Di dalam hal ini, tak menutup juga berlaku bagi mahasiswa/i, dimana mereka juga lah sebagai tumpuan harapan bangsa.

3. Meningkatkan hubungan dengan Instansi/Lembaga/ negeri yang terkait. Dalam hal ini Polisi, TNI, dan lain sebagainya, demi bertujuan untuk harmonisasi dalam memberantas korupsi secara bersama-sama. Jika hal ini berjalan dengan baik, maka korupsi tidak akan pernah bisa berkembang. Namun ibarat sisi mata uang. Jika masih ada oknum-oknum korupsi yang ada di dalam tubuh lembaga diatas, dan berjalannya sebuah komitmen yang baik. Maka, beberapa kasus korupsi tertentu tidak akan bisa terungkap secara jelas. Bahkan oknum yang terkait bisa saja dijatuhi hukuman ringan.

4. Meningkatkan hubungan dengan Instansi/Lembaga/ negeri. Dalam artian disini, bekerjasama dengan DPR/MPR, atau DPD, dan lain sebagainya. Untuk bisa mengungkap secara gamblang mengenai kasus korupsi yang ada di dalam tubuh mereka.

5. Kembali kepada kearifan lokal. Dalam artian, galakkan semangat kearifan lokal untuk menumbuh-kembangkan rasa cinta pada tanah air. Dengan cara bekerja sama dengan pemerintah untuk mengubah paradigma masyarakat mengenai museum. Untuk menjadikan museum sebagai sebuah tempat yang asyik, dimana anak-anak muda tertarik untuk berkunjung ke museum. Tempatkan juga materi-materi mengenai KPK di museum yang berkaitan atau hubungannya dengan sejarah pahlawan bangsa. Karena dengan menghargai pahlawan bangsa, mencintai tanah airnya, paham akan efek buruk korupsi, dan tahu perbuatan itu berseberangan dengan agama. Maka akan ada sebagian besar orang yang tidak akan pernah melakukan korupsi sekecil apapun. Seperti sudah menjadi rahasia umum, dimana saat ini, museum hanya sebagai tempat untuk menyimpan sejarah bangsa. Sederhananya, ada museum tapi masyarakat enggan berkunjung dan mempelajari apa yang ada di dalam museum. Padahal, sedikit mengingat. Museum adalah tempat cerita pahlawan bangsa menyerahkan segalanya. Nyawa, materi, rasa cinta kepada keluarganya, ditukar untuk berjuang hingga darah penghabisan untuk kemerdekaan bangsa ini.

6. Belajar dari apa yang ada, mencocokkannya, dan mengaplikasikannya di Indonesia. Dalam artian, belajar dari banyak negara yang sudah mengaplikasikan secara nyata dan dengan baik memberantas berbagai macam kasus korupsi hingga ke akar-akarnya. Dan dengan hasil yang dapat dilihat saat ini, bahwa negara-negara tersebut sudah jauh dari kasus korupsi. Ambil semua atau apa yang cocok dan bisa diaplikasikan ke dalam hukum dan azas atau norma yang ada di Indonesia, guna memberantas semua kasus korupsi yang ada di negeri ini.

7. Menyentuh rakyat. Dalam artian, bisa dengan berbagai macam cara. Salah satunya bisa dengan bekerjasama dengan rakyat dan memberikan payung hukum (perlindungan), juga pemberian award atau hadiah untuk mengungkap semua kasus korupsi yang mereka ketahui. Jangan sampai rakyat yang mengetahui sebuah kasus korupsi, karena takut oleh banyak alasan, seperti diancam nyawanya dan lain sebagainya. Kasus korupsi tersebut jadi tidak bisa terungkap.

8. Membuat efek jera. Dalam artian, bisa dilakukan berbagai macam cara. Menghukum seberat-beratnya oknum yang terlibat kasus korupsi dengan minimal melalui hukuman kurungan penjara 20 puluh tahun keatas. Dan dengan syarat tanpa perlakuan istimewa, alias sama dengan tahanan sel lainnya. Jika ada pihak-pihak yang masih ada hubungan dengan oknum tersebut dan berupaya melakukan keringanan atas apa yang oknum tersebut rasakan. Selidiki juga pihak ini, dan blow-up mereka ke hadapan publik bahwa mereka berupaya melindungi oknum yang sudah jelas melakukan tindak korupsi. Dan kemudian juga melakukan penyusutan harta atau mem-miskinkan oknum-oknum yang sudah jelas melakukan tindak korupsi. Membuat stigma negatif, menggiring opini publik untuk membuat oknum tersebut merasa jera.

9. Menyentuh lembaga-lembaga keagamaan. Dalam hal ini seluruh agama. Bentuk realisasinya, sama saja seperti pada poin 7. Bekerjasama untuk mengungkap seluruh kasus korupsi yang mereka ketahui. Karena lembaga-lembaga keagamaan mempunyai massa yang sangat amat banyak.

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga pemikiran ini yang mungkin bisa dijadikan sumbangsih bagi lembaga KPK untuk memberantas semua kasus korupsi yang ada di Indonesia.

Link posting (Program kerja “Andai Menjadi Ketua KPK”) yang diikut sertakan pada Lomba Blog KPK, terkait dibawah ini :

http://lombablogkpk.tempo.co/index/tanggal/902/Agung%20Prabowo.html


TAGS Lomba Blok KPK Andai Aku menjadi Ketu KPK


-

Author

Follow Me