Nikmatnya Berbuka Puasa Dengan Adik-adik Kecil Yatim Piatu

14 Jul 2014

Dalam hitungan hari menjelang bulan Ramadhan. Mungkin karena saking rindu, semua muslim tak sabar menunggu. Ketika bulan Ramadhan itu tiba, semua muslim bersuka cita. Karena Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan dilipat-gandakannya setiap amalan saleh, bulan pengampunan dosa-dosa yang lalu, bulan penuh kemuliaan pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan), dan dibukanya pintu surga serta ditutupnya pintu neraka.

Selain itu, ada banyak hal lainnya yang patut ditunggu saat Ramadhan. Momen-momen itu seperti; berbuka puasa dan sahur bersama dengan keluarga disaat awal bulan Ramadhan, ngabuburit sambil menunggu berbuka puasa dengan teman atau sahabat, berbelanja untuk kebutuhan lebaran atau sebagai hadiah untuk keluarga, membeli tiket kereta / bus / pesawat untuk berlebaran di kampung halaman, dan menunggu dengan sabar serta riang saat tempat bekerja mulai membagikan THR (Tunjangan Hari Raya).

Semua momen itu pernah aku lalui, termasuk nikmatnya beribadah di bulan Ramadhan. Namun ada satu momen yang tak terlupakan, dan itu baru pertama kali kurasakan. Rasanya, ada haru, kedamaian, dan suka cita yang menyelusup di dada. Semua bercampur jadi satu.

Berbuka dan sahur bersama dengan keluarga, memang menjadi momen yang tak ternilai sekaligus tak tergantikan. Aku pun berusaha untuk pulang lebih awal dari tempatku bekerja hanya untuk ada di rumah sebelum adzan Maghrib berkumandang. Seberapa pun macetnya lalu-lintas di jalan pada sore hari itu. Mungkin karena kebanyakan orang tampaknya juga berpikiran yang sama denganku.

Namun ketika menunggu adzan Maghrib berkumandang untuk berbuka puasa dengan adik-adik kecil yatim piatu di tempatku bekerja. Rasanya itu pun tak kalah ternilainya. Bahkan ada banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari sana. Misalnya saja; saat kebanyakan orang yang berlimpah materi menghabiskan uangnya hanya untuk sekali makan, adik-adik kecil yatim piatu itu cukup bergembira dengan takjil dan nasi kotak seadanya. Saat kebanyakan orang merasa kurang dengan uang Rp. 50.000, adik-adik kecil yatim piatu itu malah sebaliknya dan sangat senang. Saat beberapa orang lupa dengan Tuhannya, adik-adik kecil yatim piatu itu tampak merasakan nikmatnya memuja kebesaran Tuhannya.

Dan ditambah lagi bonus hati yang akan senang melihat wajah adik-adik kecil yang masih lugu itu berzikir mengagungkan nama besar ALLAH swt, dan membaca ayat-ayat kitab suci AL-Qur’an bersama.

Dan yang menjadi haru. Mereka belum paham betapa kerasnya hidup yang akan mereka jalani tanpa hadirnya kedua orang tua di sisi mereka, atau salah satunya. Meskipun tampak dari luar, wajah mereka tersenyum dan sesekali tertawa ketika salah satu temannya unjuk kebolehan dengan membawakan kultum (kuliah tujuh menit) sambil tersipu malu dihadapan banyak orang. Yaitu tokoh ulama setempat, direktur dan para karyawan perusahaan yang tak mereka kenal sebelumnya.

Beberapa rekan kerjaku yang perempuan malah ada yang menitikkan air mata sekaligus tertawa karena terhibur dengan aksi jenaka ustad kecil itu. Pun demikian juga dengan semua orang yang berada di beranda kantor pada sore hari itu.

Ah, sore hari yang bahagia dan penuh dengan tawa. Sore yang seru sekaligus haru biru. Sore yang penuh berkah, dan mungkin beberapa malaikat turut hadir disana, berzikir dan membaca ayat-ayat kita suci Al-Qur’an bersama. Sore yang memberiku beberapa pelajaran hidup. Sore yang memberiku nikmatnya telaga sebuah kedamaian dan ketenteraman hati.

Rasanya, aku ingin mengulang sore hari itu. Di tempat yang lain, bersama dengan adik-adik kecil yatim piatu lainnya. Berbagi memang sungguh nikmat. Kenikmatan itu kurasakan menjalar di seluruh sendi tubuhku dan juga di hatiku.

Terima kasih adik-adik kecil. Karena kalian telah memberi banyak makna dan arti hidup bagi yang tua. Tak hanya untukku, tapi juga untuk semua rekan kerjaku yang hadir di beranda kantor pada sore hari itu. Dan terima kasih Ya ALLAH swt, atas limpahan berkah serta hidayah-Mu, sehingga aku masih diberi kesempatan merasakan nikmatnya berbagi kepada sesama.

Kuharap, akan ada sore hari yang sama di Bulan Ramadhan seperti hari lalu. Amin Ya Rabbal Alamin…


TAGS blogdetik serunya berbuka puasa anak yatim piatu Ngablogburit


-

Author

Follow Me