• 21

    Apr

    Ibu.. Aku tahu...

    Aku tahu Ibu lelah Kulihat lewat kedua matamu yang sayup menahan kantuk Ketika ku jemput setelah kau turun dari bis dan merapatkan diri di trotoar dengan langkahmu yang terantuk-antuk Aku tahu Ibu jenuh Kulihat dari mimik wajahmu yang tertidur pulas dengan guratan penat Ketika ku menutupi tubuhmu yang tertidur dengan selimut hangat Aku tahu Ibu marah Kulihat dari gambaran ekspresimu yang merah-padam Ketika ku sadari aku khilaf dan bertindak di ruang gelap kelam Aku tahu Ibu sedih Kulihat dari tetes air matamu dalam renungan malam menghadap Illahi Ketika ku intip dari pintu yang terbuka sedikit di malam yang sepi Aku tahu Ibu gembira Kulihat dari seluruh ekspresi tubuhmu yang ringan dan mewangi Ketika ku merasakan auramu layaknya warna pelangi Aku tahu.. Karena aku tahu Ibu.. Di dalam r
  • 18

    Jun

    Sajak No.15 : "Tunggu sampai bosan"

    Duduk banyak di tepi luar pintu, kaum intelektual Tunggu seorang intelektual juga, tapi ia lebih pintar Ramai gaduh kini, namun kupilih bisu dari hingar bingar Kupilih juga duduk tenang tak bergerak, sekalipun itu sejengkal Lewat puluhan menit ia tak muncul juga Tlah kuhabiskan pemanis lidah yang kubeli 3 Bosan kini. Tunggu, tapi jangan kau katakan kedua kali, ahnanti datang lagi
  • 18

    Jun

    Sajak No.14 : "Sembahyang"

    Sehabis rintik hujan aku pulang Sendiri melangkah di atas jalan Di sebuah gubuk kecil aku habiskan makan pangan Lepas lelah sesaat lalu pergi sembahyang Kumpul banyak orang singgah di rumah Tuhan Dirikan kewajiban menuju akhirat Jangan kau tanya apa yang ku panjatkan dan persembahkan Disini aku tambah modal memperkecil azab, menunggu ajal, menanti kiamat
  • 18

    Jun

    Sajak No. 13 : "Hingga Takdir Memilihmu"

    Takdir menentu hingga menemu Dari segalanya yang mengikat Yang tak kuingin Dari semuanya yang kan jadi menebal membutakan rasaku Terbakar Berkobar menyala-nyala Sebelumnya Mati kaku sampai membeku-beku Apa yang bisa kuperbuat ? Semua kan datang hanya menunggu waktu Menuntunmu mendekapku Jadi Biarkan saja hingga takdir memilihmu Lewat irama angin dari segalanya yang tak kuingin Membawamu sampai kau tergoda aku baru ingat dengan tujuanku dulu Biarkan saja akan memekak Bila Waktu tlah datang kan tunjukkan apa yang ku ingin Aku sekejap pergi meski lama terasa menjauh, mengelak Kini datang apa yang ku ingin lewat suhu malam yang dingin
  • 18

    Jun

    Sajak No. 12 : "Temani"

    Bila ingin, tinggallah disini Jangan jenuh hati Coba beri arti. Ciptakan sesuatu, mungkin nanti tak sendiri lagi Menetaplah hingga Dan untuk kini Dan jangan pergi TemaniTemani Mungkin nanti kan ikat janji.
- Next

Author

Follow Me